Kunyit Hitam dan Berjamur: Penjelasan, Cara Mencegah, dan Cara Mengatasi

Kunyit hitam dan berjamur, ini adalah dua hal yang berbeda. Kunyit hitam yang dimaksud bukan dari spesies Kaempferia parviflora, namun kunyit (curcuma longa) yang sudah dirajang namun berubah warna menjadi gelap/hitam.

Bagi petani, pengrajin, maupun pelaku usaha yang menangani kunyit dalam jumlah besar, dua keluhan yang paling sering muncul di gudang penyimpanan adalah rimpang yang berubah warna menjadi gelap atau kehitaman, dan rimpang yang mulai ditumbuhi jamur.

Sekilas keduanya terlihat seperti masalah yang sama—”kunyitnya jelek”—padahal secara ilmiah keduanya disebabkan oleh mekanisme yang berbeda, punya tingkat risiko yang berbeda, dan membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

Memahami perbedaan ini penting, terutama bagi pelaku usaha yang memasok bahan baku ke industri bumbu dapur, industri jamu, farmasi, maupun pasar ekspor yang menuntut standar mutu ketat.

Dua Masalah yang Sering Tertukar

Kunyit menghitam pada dasarnya adalah persoalan mutu visual dan fisik—rimpang mengalami perubahan warna akibat reaksi kimia atau kesalahan proses pengeringan, tetapi belum tentu berbahaya bagi kesehatan.

Sebaliknya, kunyit berjamur adalah persoalan keamanan pangan, karena pertumbuhan kapang berpotensi diikuti oleh produksi mikotoksin yang bersifat racun bagi tubuh. Kedua kondisi ini bisa terjadi bersamaan—rimpang yang menghitam akibat pengeringan buruk biasanya juga memiliki kadar air yang masih tinggi, sehingga lebih rentan ditumbuhi jamur—tetapi penyebab dasarnya tetap berbeda dan perlu dipisahkan agar penanganannya tepat sasaran.

Mengapa Kunyit Bisa Menghitam

Pencoklatan Enzimatis Saat Rimpang Terluka

Setiap kali rimpang kunyit dikupas, diiris, atau memar akibat benturan, jaringan di bagian yang terluka akan bersentuhan dengan udara.

Pada kondisi ini, enzim polifenol oksidase (PPO) yang secara alami berada di dalam sel tumbuhan akan bereaksi dengan senyawa fenolik dan oksigen, mengubahnya menjadi senyawa kuinon yang sangat reaktif. Senyawa kuinon tersebut kemudian berpolimerisasi secara spontan membentuk pigmen melanin berwarna cokelat hingga hitam (Rahmawati, 2011).

Mekanisme ini sama persis dengan yang membuat daging apel atau kentang yang baru dikupas berubah warna menjadi cokelat dalam hitungan menit—hanya saja pada kunyit, warna kuning-oranye alami dari kurkuminoid membuat perubahan warna ini kadang kurang disadari sampai cukup parah.

Artinya, perubahan warna kunyit dari oranye menjadi coklat kehitaman ini hanya perubahan karena oksidasi dan tidak menghasilkan senyawa yang beracun.

Pengerasan Permukaan (Face Hardening) Akibat Pengeringan yang Salah

Penyebab paling umum di tingkat pengolahan pascapanen adalah kesalahan teknis saat penjemuran atau pengovenan.

Ketika irisan kunyit terlalu tebal dan suhu pengeringan terlalu tinggi, penguapan air di permukaan bahan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan proses difusi air dari bagian dalam menuju permukaan. Akibatnya, permukaan irisan mengeras dan menggelap lebih dulu sementara bagian dalamnya masih basah.

Kondisi yang dikenal sebagai face hardening. Hal inilah yang menyebabkan kunyit kering kadang bagian luarnya coklat gelap, namun saat dipatahkan bagian dalamnya masih kuning cerah/

Selain membuat warna menjadi tidak merata dan cenderung gelap, kondisi ini juga menghambat proses pengeringan lanjutan karena lapisan keras di permukaan menahan uap air keluar dari bagian dalam. Untuk rimpang kaya kurkuminoid seperti kunyit dan temulawak, risiko ini lebih tinggi dibandingkan rimpang lain karena struktur jaringannya yang padat.

Pengaruh Proses Blanching dan Curing

Sebagian pengolah melakukan perebusan atau blanching sebelum pengeringan untuk mempercepat proses dan menonaktifkan enzim.

Penelitian menunjukkan bahwa metode blanching dengan panas dapat menekan aktivitas enzim PPO secara signifikan—bahkan hampir sepenuhnya tidak aktif pada pemanasan 80°C selama 30 menit—namun perlakuan panas yang tidak terkontrol pada tahap ini justru bisa mengubah intensitas warna kunyit menjadi kecokelatan dibandingkan kunyit yang dikeringkan langsung tanpa perebusan (Cairo Food, 2022).

Dengan kata lain, blanching bisa menjadi solusi atau justru menjadi sumber masalah warna, tergantung ketepatan suhu dan durasinya. Karena saat blanching terlalu lama, kandungan pati pada kunyit menjadi berubah dan justru mempercepat oksidasi/perubahan warna.

Pengaruh suhu atau cuaca

Pada saat cuaca lebih lembab karena musim penghujan, proses pengeringan kunyit menjadi lebih lama. Bahkan tidak jarang proses pengeringan harus terhenti dan tertunda karena turunnya hujan.

Saat kunyit yang sudah dirajang melewati proses pengeringan yang terlalu lama, maka permukaan yang sudah dirajang rentan mengalami oksidasi dan perubahan warna. Sehingga kunyit kering yang diproduksi di musim penghujan lebih rentan menjadi coklat dibanding kunyit kering di musim kemarau. Kecuali jika kunyit tersebut dikeringkan dalam oven / solar drier terkontrol.

Mengapa Kunyit Bisa Berjamur

Kadar Air yang Melewati Ambang Aman

Ini adalah faktor tunggal paling menentukan. Standar mutu kunyit kering mensyaratkan kadar air maksimum 12% (Standar Mutu Rempah), dan penelitian standardisasi simplisia kunyit menunjukkan bahwa hasil pengeringan yang baik biasanya berada di kisaran 4–8% (Handayani et al., 2023; Karakteristik Pengeringan Lapisan Tipis Kunyit, 2020).

Di atas ambang ini, kunyit menjadi media yang sangat cocok bagi pertumbuhan kapang, terutama jenis kapang xerofilik yang memang beradaptasi hidup pada produk kering seperti rempah-rempah, kacang-kacangan, dan jamu serbuk.

Kelembapan Udara yang Tinggi Selama Penyimpanan

Kapang penghasil aflatoksin dari genus Aspergillus—terutama Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus—tumbuh paling optimal pada kelembapan relatif sekitar 85%, kondisi yang sangat umum ditemui di iklim tropis seperti Indonesia (Semnas Biologi FMIPA UNP, 2024).

Artinya, meski kunyit sudah dikeringkan hingga kadar air yang memenuhi standar, jamur tetap bisa tumbuh kembali jika rimpang disimpan di ruangan lembap tanpa ventilasi yang memadai, karena bahan kering akan menyerap kembali uap air dari udara sekitarnya hingga mencapai titik keseimbangan baru.

Wadah Tertutup Rapat dan Kontak Antar Rimpang

Penyimpanan dalam wadah yang tertutup rapat tanpa sirkulasi udara justru mempercepat kondensasi—uap air yang terperangkap di dalam wadah akan mengembun di permukaan rimpang dan menciptakan titik-titik basah yang menjadi lokasi awal pertumbuhan jamur.

Kondisi serupa juga terjadi ketika rimpang saling bertumpuk atau bersentuhan rapat, karena titik kontak antar permukaan menjadi kantong kelembapan yang sulit mengering secara merata.

Sehingga, sebaiknya kunyit kering tidak disimpan di dalam plastik rapat yang bisa menyebabkan pengembunan di dalam plastik tersebut. Kunyit yang berada di dalam wadah rapat akan mengalami penguapan saat disimpan di tempat bersuhu panas seperti di dalam gudang. Uap yang terperangkap di dalam plastik akan menyebabkan pengembunan dan malah menjadikan kunyit lembab sehingga berjamur.

Untuk mencegah pengembunan, kunyit harus sudah sangat kering sebelum disimpan, kadar air yang tercatat pada rimpang harus rata kurang dari 10%. Sehingga saat terpapar suhu panas, air tidak banyak menguap dan mengasilkan embun (stabil).

Risiko Kesehatan: Mikotoksin dan Aflatoksin

Bahaya sesungguhnya dari kunyit berjamur bukan sekadar tampilan yang tidak menarik, melainkan potensi kontaminasi mikotoksin—senyawa racun hasil metabolisme kapang tertentu. Aflatoksin B1 dikenal sebagai karsinogen kuat yang dapat merusak fungsi hati, menekan sistem imun, dan dalam paparan jangka panjang berkaitan dengan risiko kanker hati (Semnas Biologi FMIPA UNP, 2024).

Menyadari risiko ini, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 10 Tahun 2024 menetapkan batas maksimal cemaran pada kategori rempah kering—termasuk cabai, pala, dan rempah kering lainnya—sebesar 15 mikrogram/kg untuk aflatoksin B1, 20 mikrogram/kg untuk aflatoksin total, dan 20 mikrogram/kg untuk okratoksin A (Badan Pangan Nasional, 2024).

Untuk produk olahan, Peraturan BPOM Nomor 8 Tahun 2018 juga menetapkan batas cemaran kimia serupa pada kategori bumbu dan kacang (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2018). Angka-angka ini menjadi acuan penting bagi pelaku usaha yang memasok ke industri jamu, farmasi, maupun pasar ekspor, karena pengujian aflatoksin kerap menjadi salah satu syarat penerimaan bahan baku.

Cara Mencegah Kunyit Menghitam dan Berjamur

Penanganan Pascapanen yang Tepat Sejak Awal

Sortasi basah dilakukan segera setelah panen untuk memisahkan rimpang dari tanah, sisa gulma, dan kotoran, diikuti pencucian dengan air bersih yang tidak berlangsung terlalu lama agar senyawa aktif dalam rimpang tidak ikut larut.

Rimpang yang akan dijadikan simplisia kering sebaiknya diiris dengan ketebalan sekitar 7–8 mm dalam kondisi basah, karena setelah kering ketebalannya akan menyusut menjadi sekitar 5–6 mm dengan susut bobot berkisar 60–70%. Ketebalan irisan yang seragam ini penting untuk mencegah face hardening yang telah dibahas sebelumnya.

Baca : Kenapa Perajangan Bukan Sekadar Memotong

Pengeringan yang Terkontrol

Bila menggunakan penjemuran matahari, bahan sebaiknya diratakan tipis dan tidak ditumpuk terlalu tinggi agar seluruh permukaan mendapat paparan panas dan aliran udara yang merata.

Bila menggunakan pengering mekanis seperti oven, suhu sebaiknya dijaga tidak melebihi 50°C agar minyak atsiri dalam rimpang tidak menguap berlebihan sekaligus mencegah pengerasan permukaan yang menyebabkan warna menggelap.

Target akhir yang perlu dicapai adalah kadar air maksimum 12% sesuai standar mutu kunyit kering, dengan kadar air di kisaran 4–8% sebagai hasil yang lebih ideal untuk memberi jarak aman terhadap pertumbuhan kapang (Handayani et al., 2023).

Pengemasan dan Kondisi Gudang

Setelah mencapai derajat kekeringan yang diinginkan, kunyit sebaiknya segera dikemas untuk mencegah penyerapan kembali uap air dari udara. Kondisi gudang penyimpanan idealnya dijaga tidak lembap, bersuhu tidak melebihi 30°C, memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari sinar matahari langsung, serta bebas dari hama gudang seperti tikus dan serangga (Pustaka Pertanian, 2013).

Penyebab utama kerusakan simplisia selama penyimpanan pada dasarnya adalah air dan kelembapan, sehingga bahan yang benar-benar kering sebelum disimpan menjadi kunci utama daya tahannya (Farmakognosi, 2016).

Sortasi dan Pemantauan Berkala

Untuk penyimpanan skala menengah hingga besar, pemeriksaan berkala terhadap kondisi stok sangat disarankan—minimal satu kali dalam sebulan—untuk mendeteksi lebih dini rimpang yang mulai lembap, berbau asam, atau menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan jamur, sehingga bisa segera dipisahkan sebelum menular ke bagian stok yang masih baik.

Cara Mengatasi Jika Sudah Terlanjur Terjadi

Kunyit yang Menggelap Tanpa Tanda Jamur

Jika kunyit hanya mengalami perubahan warna akibat pencoklatan enzimatis atau face hardening—tanpa disertai bau apek, tekstur lembap, atau bercak kapang—kondisi ini umumnya lebih merupakan persoalan mutu tampilan daripada keamanan pangan.

Rimpang seperti ini masih dapat diproses lebih lanjut, misalnya disortir ke grade yang lebih rendah, diarahkan untuk keperluan ekstraksi atau penggilingan di mana penampilan fisik tidak menjadi parameter utama, dibandingkan dipaksakan masuk ke grade premium atau ekspor yang menuntut warna seragam.

Kunyit yang Sudah Berjamur

Untuk rimpang yang sudah menunjukkan pertumbuhan jamur secara kasat mata, prinsip kehati-hatian perlu diutamakan.

Berbeda dengan bahan pangan padat dan tidak berpori seperti keju keras—di mana bagian berjamur bisa dipotong dengan jarak aman karena jamur sulit menembus struktur yang rapat—bahan pangan dengan struktur lebih lunak atau berpori cenderung sudah terkontaminasi jauh melampaui bagian yang terlihat berjamur, karena hifa jamur dan mikotoksin yang dihasilkannya dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya tanpa selalu terlihat oleh mata (Antara News, 2025).

Rimpang kunyit kering, dengan struktur yang cenderung berpori setelah proses pengeringan, lebih dekat pada kategori bahan yang berisiko tinggi ini.

Pendekatan yang lebih aman adalah memisahkan dan tidak mencampurkan batch yang terkontaminasi dengan stok yang masih bersih, mengingat kapang dapat menyebar dengan mudah begitu kedua produk bersentuhan (Cairo Food, 2023), serta membersihkan wadah atau kemasan yang sempat bersentuhan dengan bahan yang terkontaminasi.

Langkah bagi Pelaku Usaha Skala Menengah–Besar

Bagi perusahaan yang menangani kunyit dalam volume besar untuk kebutuhan industri jamu atau ekspor, penanganan kontaminasi jamur idealnya tidak berhenti pada sortasi manual.

Praktik yang direkomendasikan mencakup pengujian aflatoksin secara berkala terhadap bahan baku yang berisiko, penerapan sistem penelusuran (traceability) untuk melacak asal batch yang bermasalah, serta penerapan prinsip Good Manufacturing Practices dan sistem HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points) di titik-titik kritis mulai dari panen, pengeringan, hingga penyimpanan (Catalyst Consulting, 2025).

Investasi pada pengujian laboratorium mungkin terasa sebagai biaya tambahan, tetapi jauh lebih murah dibandingkan risiko penolakan pengiriman ekspor atau, yang lebih penting, risiko terhadap kesehatan konsumen akhir.

FAQ : Kunyit Hitam dan Berjamur

Apakah kunyit yang menghitam otomatis berbahaya untuk dikonsumsi?

Tidak selalu. Kunyit yang menghitam akibat pencoklatan enzimatis atau face hardening pada dasarnya adalah perubahan warna, bukan kontaminasi. Yang perlu diwaspadai adalah jika perubahan warna disertai bau apek, tekstur lembap, atau bercak berbulu—tanda-tanda ini mengarah pada pertumbuhan jamur yang risikonya berbeda.

Apakah aman memotong bagian kunyit yang berjamur lalu memakai sisanya?

Untuk bahan berstruktur lunak atau berpori seperti rimpang kering, praktik ini tidak disarankan karena mikotoksin dan hifa jamur bisa sudah menyebar ke bagian yang tampak bersih. Prinsip kehati-hatian lebih tepat diterapkan, terutama untuk bahan baku yang akan digunakan dalam skala komersial.

Berapa kadar air maksimum yang aman untuk kunyit kering?

Standar mutu menetapkan kadar air maksimum 12%, dengan hasil pengeringan yang baik umumnya berada di kisaran 4–8% untuk memberi jarak aman terhadap pertumbuhan kapang.

Apakah semua jamur pada kunyit menghasilkan racun?

Tidak semua kapang menghasilkan mikotoksin, tetapi karena sulit membedakan jenis kapang secara kasat mata tanpa uji laboratorium, kunyit yang sudah berjamur sebaiknya tetap diperlakukan sebagai bahan berisiko dan dipisahkan dari stok bersih.

Bagaimana cara sederhana mencegah kunyit berjamur di rumah atau skala kecil?

Pastikan kunyit benar-benar kering sebelum disimpan, gunakan wadah berventilasi (bukan plastik tertutup rapat), simpan di tempat sejuk dan tidak lembap, serta hindari menumpuk rimpang terlalu rapat agar udara tetap bisa bersirkulasi di antara permukaannya.

Referensi

Antara News. (2025, 23 Maret). Apakah makanan yang berjamur berbahaya? Berikut penjelasannya. https://www.antaranews.com/berita/4731509/apakah-makanan-yang-berjamur-berbahaya-berikut-penjelasannya

Badan Pangan Nasional. (2024). Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 10 Tahun 2024 tentang Batas Maksimal Cemaran dalam Pangan Segar di Peredaran. https://badanpangan.go.id

Badan Pengawas Obat dan Makanan. (2018). Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 8 Tahun 2018 tentang Batas Maksimum Cemaran Kimia dalam Pangan Olahan. https://peraturan.bpk.go.id/Details/183202/peraturan-bpom-no-8-tahun-2018

Cairo Food. (2022). Kenapa kunyit kuning? Dan cara mengubahnya jadi merah. https://cairofood.id/kenapa-kunyit-kuning-dan-cara-mengubahnya-jadi-merah/

Cairo Food. (2023). Mendeteksi & mencegah kontaminasi mikotoksin pada rempah. https://cairofood.id/mendeteksi-mencegah-kontaminasi-mikotoksin-rempah/

Catalyst Consulting. (2025). Aflatoksin, keamanan pangan, dan tantangan ekspor: Pelajaran dari penahanan produk kacang Indonesia oleh Taiwan. https://catalystconsulting.id/blog/aflatoksin-keamanan-pangan-dan-tantangan-ekspor-pelajaran-dari-penahanan-produk-kacang-indonesia-oleh-taiwan

Farmakognosi. (2016). Pengepakan dan penyimpanan simplisia. http://pharmacywol.blogspot.com/2016/12/pengepakan-dan-penyimpanan-simplisia.html

Handayani, D., Halimatushadyah, E., & Krismayadi, K. (2023). Standarisasi mutu simplisia rimpang kunyit dan ekstrak etanol rimpang kunyit (Curcuma longa Linn). Pharmacy Genius, 2(1), 43–59. https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1.173

Karakteristik pengeringan lapisan tipis kunyit (Curcuma domestica Val) menggunakan pengering tipe tray dryer. (2020). ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/341123651

Pustaka Pertanian. (2013). Cara pengolahan simplisia temulawak. http://pustaka-pertanian.blogspot.com/2013/08/cara-pengolahan-simplisia-temulawak.html

Rahmawati, M. M. (2011). Enzim yang dihilangkan dalam industri pangan: Enzim polifenol oksidase penyebab browning pada buah dan sayur. https://maulidamulyarahmawati.wordpress.com/2011/01/11/enzim-yang-dihilangkan-dalam-industri-pangan-enzim-polifenol-oksidase-penyebab-browning-pada-buah-dan-sayur/

Semnas Biologi FMIPA UNP. (2024). Analisis pengujian cemaran aflatoksin total pada pala bubuk. https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/download/1214/1127/4653