Standar Mesh Kunyit Bubuk: Panduan Memilih Ukuran Partikel yang Tepat untuk Kebutuhan Industri

Standar mesh kunyit bubuk adalah hal yang menjadi pertimbangan bagi pembeli kunyit bubuk skala industri—baik produsen bumbu masak, pelaku usaha jamu, maupun industri farmasi dan kosmetik.

Ukuran mesh menentukan banyak hal: seberapa cepat kunyit bubuk melarut dalam proses ekstraksi, seberapa baik warnanya tercampur dalam adonan, seberapa lancar ia mengalir di mesin pengisian otomatis, hingga seberapa besar kandungan minyak atsirinya yang tersisa setelah proses penggilingan.

Artikel ini membahas standar mesh kunyit bubuk secara menyeluruh berdasarkan literatur akademis dan praktik industri, agar pembeli B2B dapat menentukan spesifikasi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan produksinya.

Apa Itu Ukuran Mesh dan Bagaimana Cara Mengukurnya

Angka mesh menunjukkan jumlah lubang ayakan (sieve) per inci linear.

Standar Mesh Kunyit Bubuk
Standar mesh kunyit bubuk: panduan memilih ukuran partikel yang tepat untuk kebutuhan industri 2

Semakin besar angka mesh, semakin rapat lubang ayakan tersebut, sehingga semakin halus pula partikel yang bisa melewatinya. Hubungan ini berbanding terbalik: mesh 40 menghasilkan partikel yang jauh lebih kasar dibanding mesh 200, meskipun angka mesh 200 terlihat “lebih besar” secara numerik.

Berdasarkan standar ayakan internasional (ASTM E11 / Tyler mesh), konversi mesh ke ukuran partikel (mikron) yang umum dipakai dalam industri rempah dan farmasi adalah sebagai berikut:

  • Mesh 40 ≈ 425 mikron
  • Mesh 60 ≈ 250 mikron
  • Mesh 80 ≈ 180 mikron
  • Mesh 100 ≈ 150 mikron
  • Mesh 120 ≈ 125 mikron
  • Mesh 140 ≈ 106 mikron
  • Mesh 200 ≈ 75 mikron

Dalam farmakognosi, klasifikasi derajat kehalusan serbuk simplisia juga mengacu pada rentang ayakan ganda—misalnya serbuk kasar (10/40), agak kasar (22/60), agak halus (44/85), dan serbuk halus (85 ke atas).

Artinya angka tersebut adalah serbuk harus lolos seluruhnya pada ayakan pertama (10, 22, atau 44) namun tidak lebih dari persentase tertentu yang lolos pada ayakan kedua (40, 60, 85). Hal ini berlaku juga pada kunyit bubuk dimana kehalusannya dapat berbeda beda sesuai dengan kebutuhan.

Ukuran Mesh yang Umum Beredar di Pasar Kunyit Bubuk

Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki SNI khusus yang menetapkan standar kehalusan (mesh) untuk tepung atau bubuk kunyit—berbeda dengan SNI 7953:2014 yang hanya mengatur kunyit segar dalam bentuk rimpang (BRMP Pengelola Hasil, 2023).

Sebagai gambaran, tepung sejenis yang sudah memiliki SNI kehalusan biasanya mensyaratkan lolos ayakan 70–100 mesh: SNI 3751:2018 untuk tepung terigu mensyaratkan minimal 95% lolos ayakan 212 mikron (mesh 70), SNI 01-3727-1995 untuk tepung maizena mensyaratkan lolos ayakan 80 mesh, dan SNI 01-3729-1995 untuk tepung sagu mensyaratkan minimal 95% lolos ayakan 100 mesh.

Rentang inilah yang secara praktik juga banyak diadopsi pelaku industri kunyit bubuk di Indonesia, karena belum adanya acuan wajib yang spesifik.

Di lapangan, ukuran mesh kunyit bubuk yang paling umum beredar adalah:

Kunyit bubuk mesh 80 adalah rentang yang paling banyak dipakai untuk kunyit bubuk kelas ekspor dan kebutuhan bumbu industri. Eksportir kunyit bubuk dari India misalnya secara konsisten menggilas bahan bakunya hingga seragam pada rentang 60–80 mesh sebagai standar produksi massal (Joshi Foods and Spices, 2026). Studi pengeringan kunyit di Indonesia juga menggunakan ayakan 80 mesh sebagai titik acuan untuk menghasilkan bubuk kunyit yang siap uji mutu warna dan kadar air.

Kunyit bubuk mesh 60 juga menjadi acuan dalam standardisasi mutu simplisia rimpang kunyit untuk keperluan farmasi dan ekstrak, di mana simplisia dihaluskan hingga lolos ayakan kehalusan mesh 60 sebelum dimaserasi dengan pelarut etanol (Standarisasi Mutu Simplisia Rimpang Kunyit, 2023).

Kunyit bubuk mesh 100–140 digunakan ketika tujuan utamanya adalah efisiensi ekstraksi senyawa aktif, seperti kurkumin atau minyak atsiri, karena luas permukaan kontak antara partikel dan pelarut menjadi jauh lebih besar (Daulay et al., 2019).

Kunyit bubuk mesh 200 ke atas relatif jarang dipakai untuk kunyit bubuk komersial karena—seperti akan dibahas pada bagian 4—kehalusan ekstrem ini justru tidak selalu memberi manfaat tambahan, bahkan berisiko menurunkan beberapa parameter mutu.

Kunyit bubuk mesh 40 ke bawah biasanya dipakai untuk kunyit bubuk kasar (coarse ground) yang ditujukan untuk aplikasi kuliner rumahan, bumbu rempah tradisional, atau campuran pakan ternak, di mana tekstur dan pelepasan aroma bertahap lebih diutamakan dibanding kehalusan.

Perbedaan Kegunaan Produk dengan Ukuran Mesh yang Berbeda

Ukuran mesh bukan sekadar preferensi estetika, melainkan parameter fungsional yang disesuaikan dengan proses akhir produk:

Kunyit bubuk untuk bumbu masak dan bumbu instan (mesh 40–60).

Untuk aplikasi kuliner, kunyit bubuk dengan kehalusan sedang sudah cukup karena akan larut sempurna selama proses pemasakan atau pencampuran bumbu. Kehalusan berlebih justru tidak memberi nilai tambah rasa, sementara biaya produksinya lebih tinggi.

Kunyit bubuk untuk jamu dan minuman herbal seduhan (mesh 40–80).

Menurut definisi Badan Pengawas Obat dan Makanan, serbuk simplisia untuk jamu adalah sediaan obat tradisional berupa butiran homogen dengan derajat halus yang sesuai dan cara penggunaannya diseduh dengan air panas (BPOM, 2014). “Derajat halus yang sesuai” ini umumnya tidak perlu terlalu ekstrem, karena proses penyeduhan dengan air panas sudah cukup untuk melarutkan senyawa aktif tanpa memerlukan luas permukaan seluas yang dibutuhkan pada ekstraksi pelarut.

Kunyit bubuk untuk ekstraksi kurkumin dan oleoresin untuk industri farmasi/nutraceutical (mesh 80–140).

Penelitian dengan metode maserasi secara konsisten menunjukkan bahwa memperkecil ukuran partikel simplisia—termasuk kunyit—meningkatkan rendemen ekstrak, karena permukaan sel yang pecah semakin luas dan kontak dengan pelarut semakin optimal (Asworo & Widwiastuti, 2023).

Pada kunyit secara spesifik, kadar kurkumin hasil ekstraksi meningkat signifikan ketika ukuran partikel diperkecil dari mesh 20 ke mesh 80, dan mencapai puncaknya pada mesh 140 (Daulay et al., 2019).

Kunyit bubuk untuk pewarna alami pangan dan kosmetik (mesh 100 ke atas).

Aplikasi yang mengutamakan kehalusan tekstur akhir—seperti bedak, masker, atau pewarna makanan yang harus tercampur homogen tanpa butiran terasa—memerlukan kunyit bubuk yang lebih halus agar tidak meninggalkan sensasi berpasir pada produk akhir.

Kunyit bubuk untuk pakan ternak (mesh 20–40).

Untuk campuran pakan unggas atau ternak, kehalusan ekstrem tidak diperlukan karena yang diutamakan adalah kandungan kurkumin dan minyak atsiri sebagai aditif herbal, bukan tekstur halus.

Mesh Halus vs Kasar: Apa Bedanya?

Perbedaan mendasar antara kunyit bubuk mesh halus dan mesh kasar terletak pada empat aspek berikut:

Luas permukaan spesifik.

Semakin halus partikel, semakin besar rasio luas permukaan terhadap volume/massa. Prinsip fisika dasar inilah yang menjelaskan mengapa kunyit bubuk mesh halus melarut lebih cepat dan lebih sempurna dibanding mesh kasar—luas kontak antara padatan dan pelarut/cairan jauh lebih besar (Asworo & Widwiastuti, 2023). Sederhananya, semakin halus kunyit bubuk maka semakin mudah dilarutkan

Sifat alir (flowability) dan kecenderungan menggumpal.

Ironisnya, kunyit bubuk yang terlalu halus justru cenderung tidak free-flowing (mudah mengalir), mudah menempel pada peralatan, dan membentuk gumpalan (lump) saat ditambahkan dalam jumlah besar pada proses produksi—suatu masalah nyata yang dilaporkan dalam kajian karakteristik fisikokimia bubuk kunyit (Dhanalakshmi & Bhattacharya, 2013). Seperti tepung terigu atau bedak yang jika digenggam erat, bentuknya akan menggumpal dan lebih menempel satu sama lain.

Sebaliknya, kunyit bubuk mesh kasar lebih kasar umumnya memiliki sifat alir yang lebih baik untuk sistem pengisian otomatis.

Warna dan intensitas tampilan.

Bubuk yang lebih halus cenderung menunjukkan warna yang tampak lebih pekat dan seragam karena distribusi pigmen kurkuminoid lebih merata di permukaan partikel, sedangkan bubuk kasar bisa menunjukkan variasi warna antar-butiran. Ini menjelaskan kenapa kunyit bubuk halus warnanya cerah dan bisa terlihat lebih kuning daripada kunyit bubuk mesh kasar seperti 60 atau 40.

Tentunya warna kunyit bubuk halus yang lebih cerah itu tidak menandakan kualitasnya lebih baik daripada kunyit bubuk yang lebih kasar dan warnanya cenderung tidak seragam. Secara ilmu fisika, partikel yang lebih halus dapat memantulkan cahaya dengan lebih baik dibanding partikel yang kasar. Sehingga efek terang menjadi lebih kuat di kunyit bubuk dengan mesh halus.

Sifat fungsional-teknis lainnya.

Studi terhadap kunyit bubuk yang digiling pada suhu rendah menunjukkan bahwa metode dan tingkat kehalusan penggilingan memengaruhi kerapatan curah (bulk density), kerapatan mampat (tapped density), indeks kelarutan air, dan indeks penyerapan minyak—parameter yang penting bagi produsen yang menggunakan kunyit bubuk sebagai bahan campuran formulasi pangan (Sapariya et al., 2023).

Apakah Mesh Halus Selalu Lebih Baik?

Pertanyaannya apakah semakin halus semakin baik?

Jawabannya adalah tidak selalu. Ada beberapa alasan berbasis riset mengapa “semakin halus semakin baik” bukan aturan yang berlaku mutlak untuk kunyit bubuk.

Hubungannya dengan kadar kurkumin tidak linear.

Penelitian Daulay et al. (2019) terhadap simplisia dan rimpang kunyit segar yang diayak pada mesh 20, 80, 140, dan 200 menemukan bahwa kadar kurkumin hasil ekstraksi memang meningkat seiring kehalusan hingga puncaknya di mesh 140 (5,6 ppm pada kunyit segar dengan pelarut etanol). Karena memang semakin halus bubuknya, proses ekstraksi kurkumin jadi lebih mudah larut.

Baca : Kandungan Kurkumin Kunyit

Namun pada mesh 200—yang lebih halus lagi—kadar kurkumin justru menurun. Studi tersebut menjelaskan bahwa partikel yang terlalu halus cenderung menggumpal (agregasi), sehingga justru mempersulit penyerapan pelarut ke dalam matriks partikel dan menurunkan efisiensi ekstraksi.

Artinya, ada titik optimal kehalusan, bukan “semakin halus semakin baik” tanpa batas.

Masalah operasional di sisi produsen dan pembeli.

Sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya, kunyit bubuk yang sangat halus lebih rentan menggumpal, menempel pada mesin pengisian, dan menimbulkan debu berlebih saat penanganan (Dhanalakshmi & Bhattacharya, 2013)—hal yang justru merugikan efisiensi produksi di pabrik pembeli, terutama untuk lini produksi otomatis berkecepatan tinggi.

Kunyit yang terlalu halus dapat menjadi debu dan hilang dari proses pengemasan atau penggilingan, sehingga meningkatkan material loss atau bahan yang terbuang selama proses.

Biaya produksi dan energi lebih tinggi.

Mencapai kehalusan ekstrem memerlukan waktu penggilingan lebih lama, tahapan penggilingan berulang (multi-stage grinding), atau bahkan penggilingan bertahap ganda (double-stage hammer grinding) yang terbukti menghasilkan bubuk lebih halus dibanding penggilingan satu tahap, namun dengan konsumsi energi dan kompleksitas proses yang lebih besar (Choudhary et al., 2015).

Untuk aplikasi tertentu, kehalusan berlebih justru tidak relevan.

Pada bumbu masak atau jamu seduhan, kehalusan ekstrem tidak memberikan manfaat tambahan yang sepadan dengan biaya produksinya, karena proses pemasakan atau penyeduhan air panas sudah cukup untuk melarutkan senyawa aktif pada kehalusan sedang.

Dengan kata lain, mesh yang “tepat” jauh lebih penting daripada mesh yang “paling halus”—dan titik tepat itu bergantung pada aplikasi akhir produk. Semua memang berhubungan dengan spesifikasi dan peruntukan, beda industri dan beda jenis pemanfaatan produk akan membutuhkan spesifikasi yang tepat. Tidak ada spesifikasi yang benar-benar sapu jagat.

Mesh Halus dan Kaitannya dengan Hilangnya Kandungan Minyak Atsiri

Ini adalah salah satu pertimbangan paling krusial namun paling sering diabaikan pembeli kunyit bubuk, karena hubungannya tidak sesederhana “makin halus makin banyak yang hilang”. Ada tiga hal yang perlu dipahami secara terpisah.

Pertama, panas yang timbul selama proses penggilingan adalah penyebab utama hilangnya minyak atsiri—bukan kehalusan itu sendiri.

Untuk mencapai partikel yang lebih halus, mesin penggiling perlu bekerja lebih lama dan dengan gaya mekanis lebih besar, yang menghasilkan panas gesekan (friksi).

Studi terhadap penggilingan kunyit dengan hammer mill mencatat bahwa suhu bubuk kunyit selama penggilingan satu tahap mencapai kisaran 38–54°C, sementara penggilingan dua tahap (yang justru menghasilkan bubuk lebih halus) menghasilkan suhu yang sedikit lebih rendah yaitu 35–48°C karena beban kerja per tahap lebih ringan (Choudhary et al., 2015).

Minyak atsiri bersifat volatil dan sensitif terhadap panas, sehingga kenaikan suhu selama proses inilah yang menjadi penyebab utama penguapan dan degradasinya. Kajian komprehensif mengenai tantangan penggilingan rempah menegaskan bahwa panas yang timbul selama penggilingan konvensional (ambient grinding) secara konsisten menurunkan kandungan minyak volatil dibanding metode penggilingan bersuhu rendah atau kriogenik (Aradwad et al., 2021).

Jika kunyit digiling dua kali, maka dalam dua kali penggilingan itu pula terjadi penguapan minyak atsiri sehingga mengurangi kandungan zat aktifnya.

Kedua, dengan pengendalian suhu yang baik, partikel yang lebih halus justru dapat mempertahankan persentase minyak atsiri yang lebih tinggi.

Ini terdengar kontraintuitif, namun kajian yang sama mencatat bahwa pada metode penggilingan yang sama, partikel yang lebih halus dengan luas permukaan lebih besar dan distribusi ukuran yang homogen justru melepaskan dan mempertahankan persentase minyak volatil yang lebih tinggi dibanding partikel kasar, asalkan panas selama proses dikendalikan—misalnya melalui penggilingan kriogenik dengan nitrogen cair atau sirkulasi air dingin (Aradwad et al., 2021).

Penggilingan kriogenik adalah proses dimana sebelum bahan digiling harus didinginkan dulu hingga di suhu -150°C agar selama digiling suhunya tidak naik dan minyak atsiri / volatil bisa menguap. Namun metode ini menaikkan biaya produksi sehingga HPP produk dapat menjadi mahal dan hanya cocok untuk industri tertentu seperti industri ekstraksi.

Ada mesin giling (disk mill) yang berpendingin air atau udara bergerak. Hampir seperti mesin mobil dengan radiator. Pada mesin dengan pendingin tersebut, suhu bahan yang digiling dapat dikurangi secara signifikan sehingga mengurangi resiko penguapan minyak atsiri / volatil.

Ketiga, terlepas dari proses penggilingannya, bubuk yang lebih halus tetap lebih rentan kehilangan minyak atsiri selama penyimpanan dan distribusi.

Setelah proses produksi selesai, partikel halus memiliki luas permukaan yang jauh lebih besar terpapar udara, kelembapan, dan cahaya dibanding partikel kasar bervolume sama.

Kondisi ini mempercepat penguapan dan oksidasi senyawa volatil dari waktu ke waktu—suatu pertimbangan penting bagi pembeli yang mempertimbangkan masa simpan (shelf life) selama pengiriman dan penyimpanan gudang, terutama untuk pengiriman jarak jauh atau penyimpanan dalam jumlah besar sebelum digunakan.

Implikasi praktis bagi pembeli B2B adalah ketika bernegosiasi dengan pemasok, angka mesh saja tidak cukup untuk memastikan mutu minyak atsiri tetap terjaga.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah metode penggilingan yang digunakan (konvensional/ambient vs bertahap/kriogenik), pengendalian suhu selama proses, serta kondisi pengemasan dan penyimpanan pascaproduksi—karena dua produk dengan mesh yang identik bisa memiliki kadar minyak atsiri yang sangat berbeda tergantung bagaimana proses tersebut dijalankan.

Ringkasan Rekomendasi Pemilihan Mesh Berdasarkan Kebutuhan

AplikasiRentang Mesh yang UmumPertimbangan Utama
Bumbu masak / bumbu instan40–60Cukup larut saat dimasak; biaya produksi lebih efisien
Jamu / minuman herbal seduhan40–80Kehalusan sedang cukup untuk penyeduhan air panas
Ekstraksi kurkumin & oleoresin80–140Luas permukaan besar untuk efisiensi ekstraksi pelarut
Pewarna pangan & kosmetik100 ke atasTekstur akhir halus dan homogen
Pakan ternak / feed additive20–40Kandungan aktif lebih diutamakan daripada tekstur

Kesimpulan

Ukuran mesh kunyit bubuk bukan angka tunggal yang berlaku universal untuk semua kebutuhan industri. Mesh 60–80 menjadi standar paling umum untuk perdagangan dan bumbu, mesh 80–140 lebih relevan untuk kebutuhan ekstraksi senyawa aktif, sementara mesh di atas 200 justru berpotensi menurunkan efisiensi ekstraksi akibat penggumpalan partikel.

Yang tidak kalah penting, kehalusan mesh perlu dilihat bersamaan dengan metode dan pengendalian suhu selama proses penggilingan, karena faktor inilah—bukan semata angka mesh—yang paling menentukan seberapa banyak kandungan minyak atsiri yang bertahan pada produk akhir. Bagi pembeli B2B, memilih mesh yang tepat sesuai aplikasi, sambil menanyakan detail proses produksi kepada pemasok, adalah pendekatan yang jauh lebih akurat dibanding sekadar mengejar angka mesh setinggi mungkin.

FAQ: Standar Mesh Kunyit Bubuk

1. Apakah ada SNI resmi untuk ukuran mesh kunyit bubuk di Indonesia?

Belum ada. SNI 7953:2014 hanya mengatur mutu kunyit segar dalam bentuk rimpang, bukan bubuk. Praktik industri saat ini mengacu pada rentang umum 60–100 mesh, sejalan dengan standar kehalusan pada SNI produk tepung sejenis seperti tepung terigu dan tepung maizena.

2. Mesh berapa yang paling cocok untuk bahan baku produk jamu instan?

Umumnya mesh 40–80 sudah memadai, karena proses penyeduhan dengan air panas cukup untuk melarutkan senyawa aktif tanpa memerlukan kehalusan ekstrem.

3. Apakah kunyit bubuk mesh 200 lebih berkualitas dibanding mesh 80?

Tidak selalu. Penelitian menunjukkan efisiensi ekstraksi kurkumin justru mencapai titik optimal pada mesh 140 dan cenderung menurun pada mesh 200 akibat kecenderungan partikel menggumpal.

4. Bagaimana cara memastikan minyak atsiri kunyit bubuk tidak banyak hilang meski dipesan dalam mesh halus?

Tanyakan metode penggilingan yang digunakan suplier—apakah konvensional (ambient) atau bertahap/bersuhu rendah—karena pengendalian suhu selama penggilingan jauh lebih menentukan retensi minyak atsiri dibanding angka mesh semata.

5. Apakah kunyit bubuk mesh kasar tetap bisa digunakan untuk ekstraksi kurkumin?

Bisa, namun rendemen ekstraksinya cenderung lebih rendah dibanding mesh yang lebih halus, karena luas permukaan kontak dengan pelarut lebih kecil.

Referensi

Apoteker.net. (2022). Derajat kehalusan serbuk. https://apoteker.net/3465/derajat-kehalusan-serbuk/

Aradwad, P. P., Sahoo, A. K., et al. (2021). Key issues and challenges in spice grinding. Cleaner Engineering and Technology, 5, 100347.

Asworo, R. Y., & Widwiastuti, H. (2023). Pengaruh ukuran serbuk simplisia dan waktu maserasi terhadap aktivitas antioksidan ekstrak kulit sirsak. Indonesian Journal of Pharmaceutical Education, 3(2), 256–263.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). (2014). Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional.

Badan Standardisasi Nasional. (1995). SNI 01-3727-1995: Tepung maizena.

Badan Standardisasi Nasional. (1995). SNI 01-3729-1995: Tepung sagu.

Badan Standardisasi Nasional. (2014). SNI 7953:2014: Kunyit.

Badan Standardisasi Nasional. (2018). SNI 3751:2018: Tepung terigu sebagai bahan makanan.

BRMP Pengelola Hasil. (2023). Menggali manfaat kunyit “si rempah kuning”. https://pengelolahasil.brmp.pertanian.go.id/berita/menggali-manfaat-kunyit-si-rempah-kuning

Choudhary, A. K., Garg, S. K., Bawankar, M. K., Chavan, A. N., & Singh, M. (2015). Influence of single- and double-stage hammer grinding on quality attributes of turmeric powder.

Daulay, A. S., Taufik, M., Ridwanto, Syahputra, R. A., & Astriliana. (2019). Effect of particle size on fresh turmeric (Curcuma longa L.) and simplicia toward content of curcumin compound. Proceedings of AISTSSE 2018. https://doi.org/10.4108/eai.18-10-2018.2287374

Dhanalakshmi, K., & Bhattacharya, S. (2013). Agglomeration of turmeric powder and its effect on physico-chemical and microstructural characteristics. Journal of Food Engineering.

Joshi Foods and Spices. (2026). Turmeric powder manufacturer & exporter India. https://joshispices.com/turmeric-powder.html

Raski, Sesi and Ulyarti, Ulyarti and Pebriani Daulay, Diana (2026). Pengaruh suhu pengeringan dan ketebalan irisan terhadap warna bubuk kunyit. https://repository.unja.ac.id/94767/

Sapariya, P. S., Joshi, N. U., & Dabhi, M. N. (2023). Physical and functional properties of low temperature ground turmeric (Curcuma longa) powder.

Standarisasi Mutu Simplisia Rimpang Kunyit Dan Ekstrak Etanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa Linn). (2023). ResearchGate.

Yin, M., Weil, M., Avallone, S., Maraval, I., Forestier-Chiron, N., Servent, A., In, S., & Bohuon, P. (2023). Impact of cooking, drying and grinding operations on chemical content, functional and sensorial qualities of Curcuma longa L.